menurut UUD 45 Pemilu diadakan 5 th sekali masalah sistem untuk mencari figur yang menyelamatkan sebuah bangsa, haruslah hukum, parlemen, serta pemerintah harus saling kontrol “untuk kepentingan banyak orang” bukan Golongan masing-masing itu namanya Rampok berdasi, penjahat.
pemilu dengan biaya besar, padahal masih banyak rakyat yang menderita, hidup dibawah garis kemiskinan
banyak kita dapati saudara-saudara kita hidup di kolong-kolong jembatan, di bantaran kali, di rel-rel kereta api.
kadang sehari makan kadang tidak sama sekali, penggangguran ada dimana-mana.
pemilu kali ini adalah pelajaran yang berharga bagi pemimpin yang akan datang.
pemilu tidak harus banyak partai (kuantitas) namun yang diperlukan adalah partai yang berkualitas.
menurut saya lebih baik 2 partai saja yaitu partai pemerintah dan partai oposisi.
dengan demikian biaya untuk pemilu sedikit dan pelaksanaan tidak rumit seperti yang terjadi saat ini.
Untuk itu mari kita dukung partai-partai politik yang berkualitas
saya sangat setuju kalau dicari bagaimana pemilu itu bisa bersih, jujur ,adil dan menghasilkan para pemimpin baik didaerah maupun dipusat yang bagus, bertanggungjawab dan tidak korupsi
Dengan biaya yang besar seharusnya pemerintah dapat menghasilkan pemili yang lebih baik dari pemilu yang lalu. tapi setelah mengetahui apa yang dapt dihasilkan pemilu yang lalu sebaiknya unga tsb digunakan untuk menurunkan harga sembako kan lebih baik dibanding dihabiskan oleh kpu dan kroninya
Pemilu is pemilu , tidak bisa diganggu gugat pelaksanaannya . Cuma biayanya yang harus dihemat . Para pemimpin harus berpikir , buat apa buat partai begitu banyak , politisi handal kalah suara sama pelawak dsb. Saya usul , bisa enggak dibuat 2 partai saja , partai pemerintah ( yang berkuasa) dan partai oposisi ( yang tidak berkuasa ). Jadi pesta demokrasi tetap ada , biayanya murah , tidak cakar2an . Pokoknya yang menang , namanya Partai Pemerintah , yang kalah namanya Partai Oposisi .
Iya, tapi sayangnya mereka semua berambisi untuk berkuasa & memanfaatkan sebesar besarnya kekuasaan itu untuk kepentingan pribadi & golongan. “mensejahterakan rakyat & mengabdi untuk bangsa dan negara” itu cuma omongan tanpa pertanggungjawaban sama sekali,padahal rakyat semakin menderita. Negara ini sepertinya miliki sebagian orang saja, milik mereka para elite. Coba lihat kasus korupsi, seenak enaknya aja mereka membagi bagi uang negara, sedangkan rakyat yang mereka ‘jual’ untuk makan aja susah. Ironis memang…..
Betul…n setuju sekali…
Selain ngabisin uang byk jg sangat rawan korupsi….!
tapi gmn dgn nasib demokrasi kita…? Masak tidak ada pemilu….? Trus pergantian pimpinan gmn dung…?
Kayaknya kita harus mikirin gmn caranya agar pemilu kita lebih murah, lebih sederhana, lebih jujur dan hasilnya berkualitas….
Mungkin anda punya saran…?
menurut UUD 45 Pemilu diadakan 5 th sekali masalah sistem untuk mencari figur yang menyelamatkan sebuah bangsa, haruslah hukum, parlemen, serta pemerintah harus saling kontrol “untuk kepentingan banyak orang” bukan Golongan masing-masing itu namanya Rampok berdasi, penjahat.
pemilu dengan biaya besar, padahal masih banyak rakyat yang menderita, hidup dibawah garis kemiskinan
banyak kita dapati saudara-saudara kita hidup di kolong-kolong jembatan, di bantaran kali, di rel-rel kereta api.
kadang sehari makan kadang tidak sama sekali, penggangguran ada dimana-mana.
pemilu kali ini adalah pelajaran yang berharga bagi pemimpin yang akan datang.
pemilu tidak harus banyak partai (kuantitas) namun yang diperlukan adalah partai yang berkualitas.
menurut saya lebih baik 2 partai saja yaitu partai pemerintah dan partai oposisi.
dengan demikian biaya untuk pemilu sedikit dan pelaksanaan tidak rumit seperti yang terjadi saat ini.
Untuk itu mari kita dukung partai-partai politik yang berkualitas
saya sangat setuju kalau dicari bagaimana pemilu itu bisa bersih, jujur ,adil dan menghasilkan para pemimpin baik didaerah maupun dipusat yang bagus, bertanggungjawab dan tidak korupsi
Dengan biaya yang besar seharusnya pemerintah dapat menghasilkan pemili yang lebih baik dari pemilu yang lalu. tapi setelah mengetahui apa yang dapt dihasilkan pemilu yang lalu sebaiknya unga tsb digunakan untuk menurunkan harga sembako kan lebih baik dibanding dihabiskan oleh kpu dan kroninya
iya setuju banget
belum tentu pemilu yang menghabiskan dana banyak akan menghasilkan pemerintahan yang baik
Pemilu is pemilu , tidak bisa diganggu gugat pelaksanaannya . Cuma biayanya yang harus dihemat . Para pemimpin harus berpikir , buat apa buat partai begitu banyak , politisi handal kalah suara sama pelawak dsb. Saya usul , bisa enggak dibuat 2 partai saja , partai pemerintah ( yang berkuasa) dan partai oposisi ( yang tidak berkuasa ). Jadi pesta demokrasi tetap ada , biayanya murah , tidak cakar2an . Pokoknya yang menang , namanya Partai Pemerintah , yang kalah namanya Partai Oposisi .
Iya, tapi sayangnya mereka semua berambisi untuk berkuasa & memanfaatkan sebesar besarnya kekuasaan itu untuk kepentingan pribadi & golongan. “mensejahterakan rakyat & mengabdi untuk bangsa dan negara” itu cuma omongan tanpa pertanggungjawaban sama sekali,padahal rakyat semakin menderita. Negara ini sepertinya miliki sebagian orang saja, milik mereka para elite. Coba lihat kasus korupsi, seenak enaknya aja mereka membagi bagi uang negara, sedangkan rakyat yang mereka ‘jual’ untuk makan aja susah. Ironis memang…..
dana pemilu besar agar pemilu benar2 berkualitas. bila korupsi terjadi maka kpk siap mengusut tuntas.
Sesuai dengan undang -undang setiap lima tahun sekali harus diadakan pemilu, soal hasilnya bagaimana itu tergantung dari moral penyelenggara.
Betul…n setuju sekali…
Selain ngabisin uang byk jg sangat rawan korupsi….!
tapi gmn dgn nasib demokrasi kita…? Masak tidak ada pemilu….? Trus pergantian pimpinan gmn dung…?
Kayaknya kita harus mikirin gmn caranya agar pemilu kita lebih murah, lebih sederhana, lebih jujur dan hasilnya berkualitas….
Mungkin anda punya saran…?