Tentang Pilkada & Pemilu 2009?
Recent Entries
- Zaskia Sungkar Bangga Sudah Bisa Hasilkan Uang
- Melinda Pacari Firman Siagian?
- Andi: ‘HANTU PUNCAK DATANG BULAN’ Sudah Lulus Sensor
- Julia Perez Membuka Hati Untuk Pria Indonesia?
- Jupe ‘Menggoyang’ Para Pengunjung Sebuah Hotel
- DI3VA ‘Tiarap’, Titi Jalan Terus
- Pemkot Samarinda Anggap Wajar ‘SUSTER KERAMAS’
- Dian Sastro Sudah Diboyong ke Rumah Calon Mertua
- Dwi Andhika Kesal Pacar Diambil Ruben Onsu
- Bahagia, Krisdayanti Tak Peduli Soal Kiamat










July 8th, 2009 at 3:10 pm
Your expression might represent majority of the people of Indonesia.
2 hari yang lalu saya disuguhi pertanyaan seperti ini oleh seorang anak kecil ketika menonton acara debat di salah satu stasiun TV Swasta menampilkan Fajrul Rahman dengan Syah Ganda.
Yang jelas, siapa pun presiden di negeri ini memang mempunyai tugas berat. Tidak gampang menjadi presiden di negeri ini. Syarat pertama adalah mempunyai mental yang kuat untuk menerima hujatan, demo, caci maki sebagai pelampiasan dari kebencian masyarakat pada kegagalan pemerintah masa lampau yang terbukti tidak mau dan tidak berkeinginan untuk memakmurkan rakyatnya.
Perubahan sikap masyarakat jelas terlihat saat ini, di mana rakyat skeptis dan penuh kecurigaan sosial.
Kondisi seperti ini sesungguhnya sudah terjadi jauh sebelum Soeharto lengser dari kepresidenannya, di mana banyak di masa itu tampil sosok yang ingin menentang rezim Soeharto, namun semua gagal karena mereka bertindak seperti algojo atau superman dengan jagoan single fighter. Seorang single fighter tidak akan bisa menang menentang sang diktator bertangan besi seperti Soeharto. Kita mengenal Sri Bintang Pamungkas yang berani mendeklarasikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) pada saat penguasa diktator itu sedang garang-garangnya, dan nyata-nyata partai baru itu diharamkan pada masa itu. Kita juga mengenal Wimanjaya, Mochtar Pakpahan dan lain-lain. Namun mereka semua tidak bisa maju.
Berbeda ketika mahasiswa bergerak menuntut reformasi didukung aksi kerusuhan bakar-bakaran, pemerkosaan terhadap etnis tertentu, penjarahan, dll. Banyak pahlawan kesiangan yang menyatakan diri sebagai kaum reformis pasca jatuhnya Soeharto seperti Akbar Tandjung, Amien Rais, Wiranto, dll. Kemana mereka pada saat sang raja berkuasa? Mengapa tak berani menentang raja? Mereka manut dengan segala kekuasaan dan roti yang dibagikan si raja untuk memperkuat akar batangnya.
Nah dalam konteks reformasi, kita harus bisa tegak lurus menilai, siapa sesungguhnya kaum reformis sejati itu? Jawabnya; mereka yang memang berani menantang arus tirani, ketidakberesan, korupsi dan lain-lain hal yang menyengsarakan rakyat. Bukan orang-orang yang berkoar-koar setelah badai berakhir.
Dalam kaitannya dengan pemilu dan pilkada sebagaimana topik masalah ini, bagaimana pun juga, Pemilu masih dianggap sebagai media penyaluran aspirasi yang akomodatif untuk mengangkat kembali marwah bangsa ini, merestorasi tatanan yang pernah runtuh.
Saran saya; mari kita tetap ikut dalam pemilu dan pilkada.
Pilih atau munculkan sosok yang diyakini mampu membawa negeri ini ke arah yang lebih jelas.
Awasi setiap langkah yang dibuat oleh pemerintah agar berjalan sesuai dengan arah majunya negeri ini.
Kita tidak perlu mengenang dan terlarut dalam kehancuran bangsa ini di masa lampau. Itu tidak berguna. Yang penting adalah kita bisa memeta diri bangsa ini ke depan.
Sekian
July 8th, 2009 at 4:34 pm
Coba anda buka situs resmi kpu di http://www.kpu.go.id/
disitu ada polling tentang Pemilu untuk Legislatif dan Eksekutif.
< ++-Chaka_Khan-++>
July 8th, 2009 at 9:44 pm
Pertanyaan yang juga dapat ditanyakan terkait pertanyaan saudara adalah ” Apakah jika kita tidak memilih pada pemilu nanti bangsa akan berubah lebih baik?”…..
Suatu pendapat yang kurang bijak jika dikatakan bangsa kita tidak berkembang dari masa kemasa. menurut saya era era sekarang lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya. semua kepemimpinan pasca soekarno, pasca soeharto dan seterusnya adalah memperbaiki masa sebelumnya.
Hanya saja terahir memang bangsa kita ternyata belum dapat secara maksimal untuk lepas dari masalah, sehingga masyarakat jenuh dan tingkat kepercayaan terhadap pemerintah menurun
Adapun ketidak ketidak percayaan terhadap pemerintah, itu wajar2 saja, tetapi harus diekspresikan secara arif dan dengan sikap kedewasaan politik.
Jika tidak percaya terhadap pemerintah, golput bukan solusi. melainkan harus lebih arif dan mengedepankan kedewasaan politik dalam memaksimalkan pemilu mendatang untuk memilih calon yang dapat dipercaya.
golput adalah keputus asaan atau juga pertanda ketidak berdayaan dan ketidak pedulian. maka saya sarankan dalam memilih:
1. menjadi pemilih yang rasional: yaitu memilih tidak semata atas dasar kharisma calon, ataupun kedekatan
2. memilih dengan memperhatikan karya-karya nyata calon, trac record calon, dan visi-misi calon
July 9th, 2009 at 4:26 am
Siapapun yang terpilih selama mereka masih anak bangsa ga
masalah. Toh masa jabatannya cuma 5 tahun. Klo dalam 5
tahun mimpin nya ga beres ya periode berikutnya jangan
dipilih lagi. Yang pasti ga mudah untuk membuat bangsa ini
maju dan hebat lagi. Perlu waktu yang lama banget. Sabar
aja n jangan banyak ngeluh n minta. Sudah waktunya kita
menderita setelah di manja dengan utank luar negeri yang
numpuk.
Yang pasti jangan jadi GOLPUT yang picik dan tidak mau
bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa ini. Kerjanya cuma mengecam.
July 9th, 2009 at 5:13 am
Kalo emang benar2x mau sejahtera dunia akhirat.
1. Pilih pemimpin yg kuat dari segi Iman & ketaqwaan thd allah SWT. menjalankan syariat islam & sunah rasul.
2. Mental baja dalam menghadapi tekanan apapun, baik itu datang dari luar negri skalipun.
3. Amar ma’ruf nahi munkar. Jujur dalam perkataan & perbuatan.
4. Rela mati demi membela kebenaran & harga diri bangsa.
5. Bukan dari kalangan Ekonom,pengusaha, birokrat, militer.
^ ^ ^
Gw ngk yakin loe pada berani milih kriteria diatas.
SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA.
July 9th, 2009 at 11:06 am
Enjoy this opera…….everything is ox.
July 9th, 2009 at 3:56 pm
Saya setuju untuk penekanan wong santun pada penekanan rekrutmen kader partai…maka untuk sementara ini, tahun 2009…saran saya kita tetap memilih…yaitu memilih untuk tidak memilih atau golput…yaitu dengan datang ke TPS tapi menuliskan bahwa kita MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH…hal ini penting, agar partai dapat memperbaiki metode rekrutmen kader mereka masing-masing…
Kedatangan kita ke TPS menunjukkan bahwa kita TETAP MENGHARGAI uang dan atau BIAYA serta KERJA KERAS yang dilakukan oleh REKAN_REKAN kita di KPU dan jajaran terkait…sementara biaya…pasti diambil dari kantong kita-kita juga sebagai pembayar pajak…
Sekali lagi, tidak ada yang instan, apabila kita lakukan ini, mudah-mudahan menjadi pemicu perbaikan pada partai…apabila tidak…maka lebih baik kita alihkan anggaran pemilu 2014 ke pendidikan dan atau penyediaan sarana prasarana pembangunan (seperti jalan yang menghubungkan nusantara/kecuali yang terpotong laut atau Selat)
Terima kasih…
July 9th, 2009 at 4:17 pm
Menurut saya persoalannya bukan pd pemilih, tapi pada sistem rekrutmen kader calon pemimpin. Rasanya, sistem yg ada belum memungkinkan munculnya calon2 pemimpin ideal spt yg anda sebutkan.
Soal money-politic, misalnya. Selama itu masih terjadi, rasanya, yg akan muncul hanya calon2 yg memiliki ambisi atau kepentingan pribadi. Sehingga, tak ada pilihan bagi rakyat utk menentukan pilihan sesuai nuraninya.
Adanya aturan calon independen, menurut saya, sedikit memberi peluang bagi rakyat dan negeri ini utk memiliki pemimpin sejati. Itu yang harus kita perjuangkan…
Btw, krn sy tdk mau dibohongi, saya selalu golput pd setiap pemilu atau pilkada.